IMG-20260604-WA0007

MUSI RAWAS – Pasca adanya dugaan “Pemaen” dalam pelaksanaan rekrutmen dan penugasan Mitra Statistik di lingkungan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) yang tak transparan ditanggapi oleh pihak BPS Mura. Bahkan, dalam perekrutan tersebut siap bertanggung jawab bahkan didemo sekalipun.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala BPS Kabupaten Mura, Samsul Munawar melalui Kasubag Umum, Nopi Irawan didampingi Statisisi Muda Legino mengatakan bahwa adanya tudingan bahwa perekrutan mitra statistik yang berubah ada yang awalnya dinyatakan lolos tetapi beberapa jam kedepan langsung berubah tidak lolos bahkan ada juga sebaliknya sudah tidak lolos dan kembali lolos dibantah keras oleh pihak BPS.

“Kalau ada tuduhan merubah hasil itu tidak benar. Sebab, pengumuman yang keluar bisa dilihat sobat dan bisa diakses oleh pelamar,”kata Nopi Irawan didampingi Legino.

Dikatakannya, dalam perekrutan mitra statistik ada beberapa tahapan diantaranya seleksi administrasi, kompetensi dan wawancara. Dimana, bila peserta sudah lulus adminitrasi maka akan ada passing grade dan terakhir wawancara melihat komitmen peserta dengan durasi waktu kurang lebih 10 menit.

“Ketika wawancara sudah dinyatakan lolos maka peserta membuat fakta integritas,”terangnya.

Menurutnya, dalam tes wawancara penguji memberikan pertanyaan terutama komitmen menjalan tugas dan tidak melanggar SOP. Dimana, untuk kontrak kerja mitra statistik ini kurang lebih 2 bulan setengah untuk melaksanakan sensus ekonomi dan kegiatan lain dengan dengan honor berkisar Rp11 juta.

Mengenai adanya rencana aksi demo di depan Kantor BPS sebagai protes dalam perekrutan mitra statistik tersebut. Maka dirinya mengakui siap bertanggung jawab atas hasil perekrutan tersebut dan siap didemo.

“Kalau ada pihak yang ingin menyampaikan aspirasi atau demo silahkan saja kami siap,”ungkapnya.

Sebelumnya, beberapa isu disampaikan masyarakat dalam pelaksanaan perekrutan mitra statistik antara lain dugaan peserta lama lebih diprioritaskan dalam penugasan dibanding peserta baru yang telah lulus seleksi. Selain itu, terdapat pula kekecewaan dari sebagian peserta yang berhasil melewati tahapan seleksi namun hingga saat ini belum memperoleh penugasan.

Di sejumlah wilayah, muncul perbedaan penilaian terhadap kinerja petugas lama. Sebagian masyarakat menilai petugas berpengalaman lebih memahami kondisi lapangan, sementara sebagian lainnya menginginkan penyegaran personel guna meningkatkan kualitas pendataan dan hubungan dengan masyarakat.

Isu lain yang turut menjadi perhatian adalah kekhawatiran mengenai akurasi data apabila petugas yang ditugaskan kurang diterima oleh warga.

“Saat pengumuman saya membuka aplikasi sobat mitra, saya dinyatakan lolos tetapi beberapa jam kedepan langsung berubah kembali saya tidak lolos bahkan ada juga sebaliknya sudah tidak lolos dan kembali lolos. Ini sangat aneh,dan diduga pasti ada permainan. Kami punya bukti, bukan hanya omongan,”kata Pardi dengan tegas kamis (04/06/2026).

Sehingga ia meminta, Bupati Hj Ratna Mahmud dan kepala Badan BPS untuk menindak tegas oknum tersebut.

“Enak bagi petugas lama dan bagi ada orang dalam, bisa diterima dengan gampang, bahkan bisa leluasa merubah isi akun dr sobat mitra,”terangnya.

Kemudian, menurut sejumlah tokoh masyarakat, hubungan yang baik antara petugas dan responden sangat berpengaruh terhadap kelancaran pendataan serta keakuratan informasi yang dihimpun.

Terlepas dari itu, masyarakat berharap BPS dapat mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan petugas lapangan, termasuk kompetensi, integritas, rekam jejak kinerja, dan penerimaan masyarakat setempat. Dengan demikian, kegiatan statistik yang dilaksanakan dapat menghasilkan data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembangunan daerah. (rls)

About The Author